Membuat Irigasi Tetes Untuk Pertanaman Cabe

Tidak bisa dipungkiri setiap tanaman yang dibudidayakan membutuhkan air, demikian juga halnya dengan tanaman cabe, namun terkadang tidak mudah menentukan takaran berapa kebutuhan air yang seharusnya untuk areal pertanaman cabe, beberapa praktek lapangan yang diterapkan petani cabe dalam pemberian air dibeberapa daerah, terkadang terlalu berlebihan, terkadang juga kekurangan asupan air pada areal pertanaman cabenya.

Pada beberapa kejadian sering pula kami menemukan petani cabe yang menggenangkan air disekitar bedengannya yang tidak terkendali, hal ini terkesan pemborosan penggunaan air, dan tanpa disadari berikutnya memicu pertumbuhan jamur karena areal pertanaman yang terlalu lembab, dimana hal ini berpotensi besar menyebabkan tanaman cabe terserang berbagai penyakit jamur.

Tanpa disadari beberapa praktek yang kurang menguntungkan ini seringkali merugikan, baik itu karena borosnya menggunakan air, ataupun dampak lanjutan yang diakibatkan kondisi lembab areal pertanaman, maka dari itu solusi yang kondusif untuk dipraktekkan, adalah dengan membuat irigasi tetes untuk pertanaman cabe.

Seperti yang kita ketahui bersama, didalam proses fisiologis tanaman air berada dalam keadaan aliran yang kontiniu, tanaman mengambil air dari tanah kemudian mengeluarkannya lagi pada saat terjadinya proses transpirasi, dan ketika terjadi defisit air maka proses fisiologis tanaman akan terganggu, jika kondisi seperti ini terjadi terus menerus, maka dapat menyebabkan kelayuan pada tanaman yang kemudian bisa berujung pada kematian tanaman cabe.

Pada pertanaman cabe skala luas kebutuhan akan air juga meningkat, hal ini membuat petani dihadapkan pada kondisi bagaimana caranya agar penggunaan air efktif dan efisien, hasil percobaan Sumarna dan Stallen (1991) di daerah Subang, memperlihatkan kebutuhan air pada satu musim tanam pada tanah latosol, sekitar 12,620 mm / Ha, jika pemberian air menggunakan metode irigasi tetes, sedangkan cara petani setempat dalam memberikan air untuk pertanaman cabe, dengan menggunakan ember dapat mencapai 27,428 mm/ Ha, hal ini membuktikan bahwa jika sistem irigasi tetes dapat menghemat pemakaian air.

Sekilas tentang irigasi

Dalam pengertian yang luas kegiatan irigasi ini meliputi empat kegiatan pokok

1. Pengembangan sumber air serta penyediannya

2. Pengairan atau penyaluran air dari sumber air ke daerah pertanian

3. Pembagian dan penjatahan air pada areal tanah-tanah pertanian

4. Penyaluran kelebihan air irigasi secara teratur

Empat tahapan besar diatas berlaku untuk semua jenis kegiatan irigasi, baik itu irigasi persawahan maupun irigasi tetes dalam skala kecilnya, seperti irigasi tetes pada pertanaman cabe.

Secara garis besar irigasi memiliki manfaat sebagai berikut

1. Membasahai tanah dengan maksud air dapat diabsorpsi oleh susunan akar tanaman, sehingga kebutuhan air tanaman untuk pertumbuhan terpenuhi

2. Memelihara kelembapan tanah dan udara, dengan demikian menciptakan lingkungan yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman

3. Mempermudah pekerjaan pengolahan tanah

4. Membantu usaha pencucian zat-zat didalam tanah yang tidak dikehendaki dalam pertumbuhan tanaman

5. Membantu dan mempermudah proses pemupukan

6. Mencegah pertumbuhan gulma

Berdasarkan tenaga atau gaya yang digunakan dalam irigasi, stern (1979) membedakan dalam dua bagian

1. Irigasi gravitasi, dimana air diberikan menurut beda ketinggian tempat, sehingga air mengalir karena gaya gravitasi

2. Irigasi pompa, dimana air diberikan menggunakan tenaga pompa

Irigasi dapat pula dibedakan berdasarkan cara pemberiannya

1. Irigasi permukaan (surface irrigation)

2. Irigasi bawah tanah (sub-surface irrigation)

3. Irigasi curah (overhead/sprinkler irrigation)

Dalam metode irigasi permukaan, dapat pula dibedakan berdasarkan pemberian dan pembagian air pada peta-petak tanaman, yakni :

1. Irigasi secara penggenangan

2. Irigasi diantara petak atau bedengan

3. Irigasi diantara jalur-jalur tanaman

Terkait pembahasan kita kali ini yakni tentang membuat irigasi tetes untuk pertanaman cabe, maka sistem irigasi tetes ini termasuk kedalam sistem irigasi permukaan, dimana cara kerjanya adalah pemberian air diantara jalur-jalur tanaman.

Air diberikan melalui jaringan-jaringan pipa diatas permukaan tanah yang dipasang sesuai jalur-jalur tanaman, dalam prakteknya irigasi tetes ini tidak memerlukan pembuatan parit-parit atau selokan seperti pada sistem irigasi lainnya.

Peralatan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat irigasi tetes pada tanaman cabe?

1. Pipa

Pipa utama, sub pipa utama, dan lateral

2. Alat penetes

3. Pompa air

4. Saringan

5. Katup-katup

6. Pengontrol tekanan atau biasanya dilengkapi dengan injektor pupuk

Cara kerja irigasi tetes untuk pertanaman cabe

Setiap tanaman secara langsung akan menerima air irigasi melalui penetes yang dipasang pada pipa lateral, pipa lateral ini terletak diatas perakaran tanaman, permukaan tanah menerima air berupa tetes-tetesan yang debitnya tergantung kepada tekanan yang diberikan, biasanya tekanan yang diberikan tekanan rendah 1 sampai 3 atmosfer, dengan mangatur besarnya tekanan sistem irigasi ini mampu memberikan air sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Pemberian air pada tanaman dengan cara irigasi tetes disesuaikan dengan jenis dan umur tanaman, karena jenis dan umur tanaman menentukan perkembangan akar yang selanjutnya menentukan volume daerah perakaran.

Karena pemberian air hanya mencakup daerah perakaran dengan kadar air optimum, permukaan tanah tidak seluruhnya dapat dibasahi, akan tetapi hanya sekeliling tanaman saja, secara gravitasi dan kapiler air dari penetes bergerak menembus profil tanah, sehingga pertumbuhan akar tanaman cenderung terpusat dimana kondisi untuk mengabsorpsi air lebih besar, bila pemberian air kurang dari volume perakaran, akan menghambat perkembangan akar, demikian juga sebaliknya, jika melebihi volume daerah perakaran, akan mengurangi efisiensi pemberian air atau terjadi pemborosan pemakaian air.

Keuntungan dan kerugian irigasi tetes

Menurut keller dan karmeli (1975) serta jensen (1980) beberapa keuntungan dari irigasi tetes sebagai berikut.

1. Meningkatkan nilai guna air

Secara umum air yang digunakan pada irigasi tetes lebih sedikit, penghematan air ini karena pemberian air bersifat lokal dengan debit yang kecil, sehingga dapat menekan evaporasi, aliran permukaan dan perlokasi

2. Meningkatkan keseragaman pertumbuhan dan hasil tanaman

Aerasi dan fluktuasi kadar air tanah relatif konstan, karena pemberian air dilakukan secara sedikit demi sedikit, hal ini sangat menunjang untuk pertumbuhan dan produksi tanaman

3. Dapat mencegah erosi dan memperbaiki drainase tanah

Penyimpanan air didalam tanah sangat efektif karena pemberian air disesuaikan dengan kedalaman yang dibutuhkan

4. Dapat menekan pertumbuhan gulma

Pada permukaan tanah yang kering gulma tidak dapat tumbuh, sehingga dapat menekan kerja penyiangan

5. Pemupukan dapat dilakukan melalui irigasi

6. Dapat menghemat tenaga kerja

Disamping keuntungan ada pula kerugiannya sistem irigasi tetes ini, berikut kerugiannya.

1. Pipa saluran mudah tersumbat terutama pada penetes

2. Mengakibatkan penggumpalan garam-garam dipermukaan tanah

3. Distribusi tanah dapat menjadi pembatas bagi perkembangan akar

4. Jaringan pipa dapat dirusak oleh binatang

5. Tidak semua jenis tanaman yang diberi air dengan irigasi tetes dapat menguntungkan secara ekonomis

Mode tata letak sistem jaringan pipa pada irigasi tetes

Dibawah ini bisa disimak model tata letak pipa saluran atau sistem jaringan pipa, untuk bisa dimanfaatkan pada irigasi tetes pertanaman cabe.

Membuat Irigasi Tetes Untuk Pertanaman Cabe

Model sistem jaringan pipa tersebut akan bekerja dengan baik jika dipahami sistem kerja hidroliknya, karena yang berperan penting dalam kelancaran pengaliran airnya adalah gaya tekanan dalam pipa, sehingga dihasilkan debit air yang diinginkan.

Sistem hidrolik irigasi tetes

Air yang mengalir dalam pipa menimbulkan gaya yang bekerja pada dinding sebelah dalam, gaya tersebut terdiri dari gaya statis yang selalu terdapat pada dinding pipa meskipun air tidak mengalir, kemudian tegangan geser, yaitu gaya yang ditimbulkan karena gerakan air sebagai akibat dari energi kinetis.

Hidrolik penetes

Fungsi besar dari irigasi tetes ini salah satunya adalah sistem kerja penetesnya, air dikeluarkan melalui penetes secara konstan dan kontiniu, kondisi ini sangat tergantung pada tekanan dalam pipa, karakteristik dari penetes akan menunjukkan debit air yang dapat dilewati penetes tersebut.

Penetes yang diharapkan untuk irigasi tetes harus mempunyai persyaratan sebagai berikut.

1. Menghasilkan debit yang rendah, seragam dan konstan untuk setiap kerja tekanan

2. Mempunyai lubang pengeluaran yang cukup besar untuk mencegah penyumbatan benda-benda asing atau endapan bahan kimia

3. Harganya murah, kuat dan seragam

Hidrolik pipa saluran irigasi tetes

Bernouli menyatakan sifat-sifat dan ketentuan dari cairan yang sempurna, dimana enesi yang terkandung pada suatu elemen cairan yang mengalir di dalam pipa, merupakan fungsi dari ketinggian (elevasi), kecepatan dan tekanan.

Karena itu posisi pipa saluran berperan penting dalam pendistribusian debit air, dibawah ini kita jelaskan bentuk distribusi aliran sepanjang pipa saluran.

Pipa saluran mendatar

Pada sepanjang pipa saluran mendatar, debit aliran terdistribusi secara linear sepanjang pipa salurannya, semakin dekat jarak ruas kepada pangkal pipa saluran, semakin besar debit alirannya.

Pipa saluran miring

Perubahan tinggi tekanan pada pipa miring terutama lebih besar ditentukan oleh sudut kemiringan daripada oleh gesekan, pengaruh terbesar adalah pada perubahan enersi potensial atau enersi elevasi, pada pipa yang mempunyai kemiringan ke bawah akan mendapat penambahan enersi potensial, sedangkan untuk pipa yang mempunya kemiringan keatas akan kehilangan enersi potensial, dengan demikian sudut kemiringan akan mempengaruhi tekanan hidrostatik sepanjang saluran.

Pemberian air yang baik serta teratur akan menghasilkan pertumbuhan tanaman yang optimal, beberapa pertimbangan utama dalam menentukan berapa banyaknya air yang diberikan, dan kapan air itu harus diberikan diantaranya melalui pertimbangan sebagai berikut.

1. Kadar air tanah optimum

Pergerakan air yang diterima dari irigasi tetes akan mendekati teori gerakan jenuh, yang biasa terjadi didalam tanah, air akan memasuki tanah mula-mula menggantikan udara yang terdapat dalam pori makro dan kemudian pori mikro, air tambahan akan bergerak kebawah melalui proses gerakan jenuh.

Setiap tanaman mencoba mengabsorpsi air secukupnya dari tanah dalam pertumbuhannya, jadi yang paling penting untuk tanaman itu adalah bahwa air dalam tanah itu berada dalam keadaan yang mudah diabsorpsi tanaman.

Poin pentingnya disini adalah, “Kadar air yang memungkinkan tanaman dapat mengabsorpsinya adalah antara titik layu permanen sampai kapasitas lapang, yang dikenal dengan istilah kadar air efektif”, namun demikian interval yang menjamin pertumbuhan tanaman yang normal adalah antara titik permulaan layu sampai kapasitas lapang, kadar air dalam interval seperti ini disebut “Kadar air optimum” yaitu kira-kira 50 – 70 persen dari kadar air efektif.

Mengenai kondisi air dalam tanah ini, dalam hal ini kelembapan tanah, Kusandriani dan Sumarna (1993) dalam penelitiannya menjelaskan, pengaruh kelembapan tanah latosol terhadap produksi cabai, memperlihatkan bahwa tingkat kelembapan ideal untuk pertumbuhan dan hasil tanaman cabai pada jenis tanah Andosol dan Latosol berkisar antara 60 – 80 %, pada tingkat kelembapan tanah yang rendah (< 40 %) ataupun pada kelembapan tanah yang terlampau tinggi (mendekati 100%), tanaman cabai tidak dapat berproduksi dengan baik.

Jadi sahabat tani anda bisa mengambil pedoman, berapa kondisi kelembapan tanah di areal pertanaman cabe anda, kemudian mengambil keputusan yang baik untuk menganggulanginya.

Dibawah ini kita tampilkan tabel pengaruh kelembapan tanah latosol terhadap produksi cabai

Tabel pengaruh kelembapan tanah latosol terhadap produksi cabe
Kelembapan Tanah (%) Bobot Buah (g)
100 141,85 b
80 274,23 c
60 194,73 c
40 163,39
20 3,75 a

“Tanaman cabe merupakan tanaman yang sangat sensitif terhadap kelebihan ataupun kekurangan air”.

Jika tanah kering dengan kadar air dibawah limit, maka tanaman akan kurang mengabsorpsi air sehingga menjadi layu dan lama kelamaan akan mati, demikian pula sebaliknya, ketika tanah pertanaman cabe terlalu banyak mengandung air, akan menyebabkan aerasi tanah menjadi buruk dan tidak menguntungkan bagi pertumbuhan akar, akibatnya pertumbuhan tanaman akan kurus dan kerdil.

“Kebutuhan air untuk pertanaman cabe akan sejalan dengan pertumbuhan tanaman, ketika cabe dalam masa vegetatif rata-rata dibutuhkan air pengairan sekitar 200 ml/hari/tanaman, dan ketika fase generatif sekitar 400 ml/hari/tanaman” (*) 

Dalam pemberian jumlah air yang optimum untuk pertanaman cabe, hal yang paling penting diperhatikan adalah, waktu pengairan, daya infiltasi tanah, dan keadaan iklim.

Jika kondisi areal pertanaman cabe memiliki strukutur longgar seperti tanah pasir, maka tanah kurang baik menahan air, oleh karena itu periode penyiraman harus lebih pendek dengan debit air yang kecil, sebaliknya jika tanah banyak mengandung liat dengan struktur padat, dapat menahan air lebih banyak. Sehingga periode penyiraman lebih panjang dengan debit air yang lebih besar.

2. Distribusi air dalam tanah

Besarnya volume air sangat menentukan sekali perkembangan akar tanaman, jika dibandingkan akar tanaman cabe akan lebih baik pertumbuhannya pada kondisi tanah yang lembab, dibanding kondisi tanah yang kering.

Dalam sistem irigasi tetes penting untuk diperhatikan debit air, lamanya pemberian air, dengan keadaan tanah, pada tanah yang terlalu kering akar tanaman sulit menembus tanah, jadi penambahan debit air dan lamanya pemberian air, harapannya agar semakin memperluas daerah/ volume tanah yang basah.

Kecepatan pembahasan tanah dalam sistem irigasi tetes tergantung kepada beberapa faktor

a. jumlah air yang diberikan

b. kemampuan infiltrasi permukaan tanah

c. daya hantar dari horizon-horizon tanah

d. jumlah air yang akan ditahan/diikat oleh profil tanah

setiap jenis tanah memiliki pola basahan yang berbeda-beda, tergantung pada teksturnya, tanah yang banyak mengandung pasir lebih cenderung membentuk pola infiltrasi memanjang ke arah vertikal, sedangkan pada tanah yang banyak mengandung liat, pola infiltrasinya akan melebar ke arah horizontal.

3. keseragaman emisi

ketika merancang saluran pipa untuk saluran irigasi tetes, perlu diperhitungkan variasi debit penetes yang terjadi disepanjang pipa saluran, karena variasi debit tetes ini akan menentukan nilai keseragaman jumlah air yang diterima dan infiltrasikan oleh permukaan tanah.

4. Fertigasi

Fertigasi adalah cara pemberian pupuk untuk tanaman melalui irigasi, pupuk dilarutkan dalam air kemudian secara bersamaan diberikan pada tanaman.

Pemberian pupuk melalui irigasi tetes mempunyai beberapa keuntungan.

a. Tanaman dapat memanfaatkan unsur hara dengan lebih efisien, terutama untuk jenis pupuk yang lambat sekali bergerak dalam tanah.

b. Tidak merusak biji atau akar tanaman yang ditanam

c. Pemberian pupuk dapat sejalan dengan fase pertumbuhan fisiologis tanaman, dan pupuk akan terdapat di daerah rangkum akar, sehingga perkembangan akar akan lebih cepat dan ekstesif

d. Dapat menghemat tenaga kerja pemupukan karena mudah dalam pelaksanaannya.

Namun demikian selain keuntungan fertigasi ini ada pula kerugiannya, diantaranya sebagai berikut.

a. keseragaman distribusi pupuk akan ditentukan oleh keseragaman distribusi air

b. tidak semua pupuk dapat diberikan melalui fertigasi

c. bahan yang tertinggal dapat menyebabkan penyumbatan

Nah sahabat pembaca di negara manapun anda berada, jika anda ingin memaksimalkan penggunaan air dan memaksimalkan produksi tanaman cabe anda dengan baik, silahkan coba memanfaatkan sistem irigasi tetes pada budidaya cabe anda, selamat mencoba, sampai jumpa di pembahasan selanjutnya, salam.

DMCA.com Protection Status

* Sumber
- Balai penelitian tanaman sayuran republik indonesia
- *(Sumarna dan Kusandriani 1992)

0 comments